Dari Perut Membandel ke Rahim Kehidupan

  • Bagikan
banner 468x60

Parepare,Literasi Sam- Malam masih buta, Selasa (02/09/2025), ketika perutku terasa membandel. Rasa ingin keluar sudah di ujung, tapi tak kunjung terjadi. Di kamar mandi, dalam posisi jongkok, aku teringat sesuatu: mungkin beginilah sedikit rasa yang dialami seorang perempuan saat melahirkan. Tekanan, pedih, dan doa yang keluar bersamaan. Bedanya, aku hanya berhadapan dengan kotoran, sedangkan ibu dan istri-istri berjuang melahirkan kehidupan.

Rasa sakit itu menuntunku pada penyesalan. Berapa kali aku melukai hati mereka, padahal rahim merekalah pintu lahirku dan anak-anakku. Aku pun menunduk, memohon ampun kepada Allah.

Example 300x600

Sisa ayam goreng yang kusiapkan untuk sarapan akhirnya kuserahkan pada seekor kucing. Ia lahap makan sambil mendengkur pelan. Aku mengajaknya bicara.

“Cing, aku lagi susah buang air besar,” ucapku sambil menatapnya. “Ngomong sama Allah, ya. Semoga Allah mudahkan aku, seperti Nabi Musa dimudahkan membelah laut.”

Begitulah aku terbiasa. Kadang memberi makan semut, kucing, burung merpati, kadang menyiram tanaman, aku selalu mengajak mereka bicara. Seolah-olah mereka bisa ikut menjadi saksi doa, ikut mengetuk pintu langit.

Pagi menjelang, aku bertemu seorang tukang ojek bernama Budi. Ia menemaniku mencari pepaya, sesuai saran untuk melancarkan pencernaan. Di atas motor tuanya, ia bercerita tentang tanah yang dibelinya untuk anak-anaknya kelak.

“Saya beli tanah ini untuk anak-anak, Pak,” kata Budi, “biar nanti mereka tidak menitipkan saya di panti jompo.”

Harapannya sederhana, tapi membuatku mengangguk. Aku pun menaruh doa untuk keluarganya, sambil mentraktirnya kopi dan kue di warung pinggir jalan. Sedekah lain yang lahir dari perut yang masih menahan.

Dan di situlah jawaban Allah datang. Saat kembali ke Masjid Nurul Amin SMA Negeri 2 Parepare, Sulawesi Selatan, tempat aku iktikaf semalam, perutku mendadak mules. Aku bergegas, dan akhirnya, Alhamdulillah, semua keluar juga.

Aku tersenyum. Ternyata obat tidak selalu berupa pil pencahar atau buah pepaya. Kadang ia berupa doa dalam sujud, sedekah kecil pada kucing dan tukang ojek, atau renungan tentang kasih seorang ibu. Dari jongkok di kamar mandi, Allah mengajariku arti rahim kehidupan.

(Paman Sam)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *