
“mana ada kambing berdiri di tengah sungai, apalagi malam-malam begini,”
Tidak semua hewan yang kita lihat di malam hari benar-benar hewan. Kadang, ada sesuatu yang menyamar dengan wujud sederhana. Malam itu, di sungai Bangga-Banggae, saya dan paman menyaksikan sendiri betapa tipisnya batas antara dunia manusia dan dunia gaib.
Cerita tentang penampakan makhluk halus mungkin bagi sebagian orang hanyalah dongeng. Namun, bagi mereka yang pernah menyaksikan langsung, jin, hantu, atau apa pun namanya itu adalah kenyataan.
Saya sendiri dulu termasuk orang yang tidak terlalu percaya dengan hal-hal berbau mistis.
Semua terdengar seperti cerita pengantar tidur saja. Sampai akhirnya, pada suatu malam di tahun 2002, pengalaman aneh membuat saya benar-benar yakin bahwa makhluk tak kasatmata memang ada.Hari itu, paman saya, Bakri Arga Dimantara , baru saja melangsungkan akad nikah di Desa Rappang, Dusun Kambe, Kecamatan Tapango.
Setelah ijab qobul, keluarga yang sejak siang mengantar pengantin segera pulang ke Desa Andau (Kini Landi Kanusuang) tempat tinggal kami. Namun saya, sebagai ponakan laki-laki tertua, diminta untuk menemani paman hingga resepsi selesai. Resepsi baru usai sekitar pukul 23.30. Paman mengajak saya pulang ke rumahnya malam itu juga. Sayangnya, ia lupa menitip pesan agar ada keluarga yang menjemput.
Motor masih jarang kala itu, dan untuk meminjam kendaraan kerabat istrinya rasanya tidak enak—lagipula sudah terlalu larut.Akhirnya kami memutuskan pulang dengan berjalan kaki. Jaraknya tidak main-main: sekitar 8,5 kilometer. Untung saja malam itu bulan bersinar terang, menerangi jalan meski suasana tetap terasa remang dan sepi.Paman memilih jalur ini agar lebih cepat sampai rumah.
Setelah hampir satu setengah jam berjalan, tibalah kami di sebuah daerah yang orang menyebutnya Bangga-banggae, sudah masuk wilayah Desa Andau. Dari situ ada jalan setapak yang memintas menuju Dusun Pulluddung, melewati sebuah sungai. Paman memilih jalur ini agar lebih cepat sampai rumah.
Hanya suara langkah kami dan sesekali derik serangga yang terdengar. Setelah beberapa menit, tibalah kami di tepi sungai. Gemercik air mengalir jelas di hadapan.Suasana begitu lengang. Hanya suara langkah kami dan sesekali derik serangga yang terdengar. Setelah beberapa menit, tibalah kami di tepi sungai. Gemercik air mengalir jelas di hadapan.Lalu, paman saya tiba-tiba berhenti
Sekitar lima meter di depan, di tengah aliran sungai, terlihat dua ekor kambing berbulu hitam. Yang satu lebih besar, seolah jantan, dan yang satunya lebih kecil, seperti betina. Anehnya, keduanya berdiri menantang arus, lalu serentak mengangkat dua kaki depan mereka. Suara “mbeeek!” melengking, memecah sunyi malam.
Paman langsung menoleh, wajahnya tegang. “Kita lewat jalan besar saja,” ucapnya cepat. Tanpa banyak bicara, ia berbalik arah. Langkahnya kini lebih cepat, hampir tergesa.Saya mengikuti di belakang, masih bingung. “Kenapa kita kembali, Om?” tanyaku.Ia menoleh setengah, nadanya tajam. “Kamu tidak lihat tadi itu?”
“Ya, kambing tadi ?” jawabku polos.
Paman menatap saya dengan sorot serius. “Mana ada kambing berdiri di tengah sungai, apalagi malam-malam begini.” Sejenak saya terdiam.
Baru saat itu bulu kuduk saya berdiri. Mustahil memang ada kambing di aliran sungai. Apalagi kambing dikenal hewan yang takut air. Lalu, makhluk apakah yang tadi mengembik dengan jelas di hadapan kami. Belakangan saya mendengar cerita warga setempat: jalan pintas yang melewati sungai itu memang angker. Katanya, sejak dulu, tidak ada yang berani menyeberanginya setelah matahari terbenam.
Polewali, 29 Safar 1447 H.
(Rudianto)








